25 Februari 2010

Manusia Sebagai Makhluk Ciptaan Tuhan

Latar belakang

Banyak guru dan orang tua senang bila siswa dan anak mereka berlaku santun menghargai dan menghormati setiap manusia dan berbudi luhur. Banyak pendidik gembira bila para siswa dapat bekerja sama dengan teman-teman lain dapat menghargai perbedaan serta hidup bersama orang lain. Banyak pendidik senang bila para siswa berkembang menjadi manusia yang bertanggung jawab menghargai pribadi manusia yang berdamai dengan Sang Pencipta dan alam ciptaan. Para pendidik tidak suka bila para siswa hanya pandai dalam ilmu pengetahuan tetapi senang tawuran, berkelahi, mengambil atau merusak milik orang lain, hal itu dianggap kurang beradap.
Dari keinginan dan dambaan orang tua dan para pendidik sangat jelas manusia seperti apa yang mereka inginkan terjadi dalam diri anak didik mereka. Mereka menginginkan bahwa anak didik menjadi manusia yang lebih utuh yang berkembang bukan hanya dalam ilmu pengetahuan tetapi sikap dan nilai kemanusiaan. Dan keinginan itu secara jelas akhir-akhir ini ditanamkan oleh para pendidik lewat budi pekerti. Maka tampak jelas bahwa berbicara tentang budi pekerti tidak dapat lepas dari pandangan kita tentang manusia, siapa manusia itu dan mau kemana dengan hidup ini semua keinginan para pendidik jelas menunjukan manusia macam apa yang didambakan dengan pendidikan budi pekerti.

Tujuan
1. Mengetahui pengertian tentang arti manusia dan kedudukannya
2. Mengetahui manusia sebagai makhluk yang berakal budi
3. Mengetahui manusia sebagai makhluk pribadi
4. Mengetahui manusia sebagai makhluk sosial
5. Mengetahui manusia sebagai makhluk yang berbudaya
6. Mengetahui tujuan hidup manusia
7. Mengetahui pengertian pendidikan manusia

PEMBAHASAN

A. Pengertian Manusia
Apa bedanya seekor kera dengan manusia? Apa bedanya seekor harimau dengan seorang manusia? Apa bedanya seekor anjing dengan seorang manusia meski makhluk hidup mereka sama-sama makan, minum, berkembang biak, dapat sakit, dan mati tetapi mereka sungguh berbeda jauh seekor kera bila lapar dan melihat buah pisang, akan langsung mengambil pisang itu dan memakannya. Seekor harimau bila marah akan langsung menerkam musuhnya dan seekor anjing bila sedang bernafsu birahi akan langsung mengejar ajing yang betina dan mengawininya sedangkan manusia tidak. Manusia meski ia lapar, ia dapat menahan diri tidak langsung mengambil makanan yang ada didepannya. Meski ia marah, ia dapat menahan diri dan tidak langsung melampiaskan kemarahan, dan jika ia sedang bernafsu ia dapat menahan atau tidak langsung menyalurkan birahinya.

1. Manusia sebagai makhluk berakal budi
Manusia dapat berfikir dapat mempunyai kehendak bebas untuk memilih dan menentukan apa yang akan diperbuatnya dan ia dapat bertanggung jawab terhadap pilihannya itu. Semuanya itu karena manusia memiliki akal budi maka manusia disebut Animal Rationale. Binatang hidup dari naluri dan instink tidak menggunakan akal budi dan ikut saja apa yang menggerakkan dirinya, sedangkan manusia dapat mengatur tindakannya dengan akal budinya. Meski manusia lapar, ia dapat menunda keinginan itu sampai dirumah sedangkan binatang, langsung menerkam musuhnya. Meski manusia marah sekali tapi ia dapat mengatur untuk tidak melampiaskan kemarahannya kepada orang yang membuat marah. Manusia disakiti oleh manusia lain ia dapat memilih untuk tidak membalas menyakiti bahkan dapat mengampuninya yang menyakitinya. Hal ini disebabkan karena manusia bertindak berdasarkan akal budinya bukan berdasarkan instink.
Dengan akal budi itu manusia dapat memilih antara yang baik dan yang tidak baik. Ia bebas untuk menentukan sendiri mau memilih yang mana dengan segala resikonya. Bila ia memilih tindakan yang baik maka ia akan berkembang menjadi semakin baik, bila ia memilih hal tidak baik maka ia akan berkembang menjadi jahat. Dalam hal ini jelas ada unsur kesadaran dalam tindakan manusia, kesadaran manusia harus bertanggung jawab tehadap pilihannya sendiri dan tidak boleh melemparkan tanggung jawab kepada orang lain.

2. Manusia sebagai mahkluk pribadi
Manusia sering kali dianggap sebagai pribadi atau personal. Pribadi karena semua yang dia buat ia sendirilah yang menentukan dan ia sendirilah yang menginginkan. Sebagai pribadi yang ekstrem, kebahagiaan manusia pertama-tama menjadi tanggung jawab dia sendiri karena dialah yang memilih dan menentukan tindakan yang baik dan tindakan tidak baik. Bila seorang celaka tidak bahagia dalam hidup pertama-tama karena dia sendiri yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada dirinya.
Sebagai pribadi manusia bernilai, berharga, sebagai pribadi manusia mempunyai kemanusiaan yang tidak boleh diganggu atau disengsarakan oleh karena itu manusia tidak boleh dipaksa, diobjekan, apalagi dihancurkan.Setiap manusia mempunyai hak asasi nya yang tidak boleh dilanggar oleh orang lain walaupun orang itu pimpinannya. Hak asasi seperti misalnya hak hidup, hak beragama, hak bertempat tinggal, hak perlu dilindungi karena manusia tidak dapat menentukan hidup orang lain.
Manusia disadari sebagai ciptaan Tuhan, sang pencipta oleh karena manusia adalah ciptaan Tuhan dan setiap manusia diciptakan itu bernilai. Tuhan menciptakan manusia atas kuasa utntuk menghalangi manusia lain apalagi menghancurkan ciptaan Tuhan tersebut. Oleh karena itu manusia adalah ciptaan Tuhan yang diharapkan berkembang dan semakin dkat dengan Tuhan nya. Dalam relasi yang akrab dengan Tuhan pribadi manusia semakin disempurnakan.
Sebagai pribadi ciptaan Tuhan, manusia itu bersifat rohani dan jasmani. Prof. Driayarkara menyebutnya manusia sebagai roh yang menjasmani atau jasmani yang meng-roh. Keduanya tidak dapat dipisahkan sebagai manusia yang utuh. Oleh karena sifat rohaninya manusia dapat berelasi dengan Allah, dapat berfikir, berasa badaniah dan jasmani, bermeditasi dengan ilahi.

3. Manusia sebagai makhluk sosial
Manusia juga disebut makhluk sosial. Dalam kenyataan hidup ternyata manusia yang berpribadi itu tidak dapat hidup sendiri. Seorang anak yang baru lahir tidak dapat hidup begitu saja tanpa bantuan orang lain, seperti orang tuanya. Seorang anak yang baru lahir bila dibiarkan ditengah hutan tanpa berelasi dengan manusia lain tidak akan menjadi manusia. Bahkan ada pengalaman, seorang anak yang sejak kecil dipelihara oleh serigala ditengah hutan, akhirnya bertungkah seperti serigala.
Dari pengalaman hidup yang biasa, kita juga mengalami bahwa kita sungguh tidak dapat hidup tanpa bantuan, uluran, maupun campur tangan dari orang lain. Untuk kemajuannya, kita perlu belajar dari orang lain baik dalam pendidikan formal maupun informal. Dalam proses pendidikan itu sangat banyak orang ikut membantu atau andil dalam pertumbuhan dan perkembangan hidup kita. Dari sini jelas bahwa pribadi-pribadi baru akan dapat hidup menjadi pribadi yang lebih sempurna atau menjadi manusia, bila bersama orang lain. Tanpa kebersamaan dengan orang lain, kita tidak akna menjadi manusia. Inilah unsur sosialitas hidup kita .
Sebagai makhluk sosial inilah manusia akhirnya membangun pesaudaraan atau persekutuan dengan orang lain. Persaudaraan yang terkecil adalah keluarga yang berdasarkan darah kelahiran. Persekutuan yang lebih luas terwujud dalam hidup bermasyarakat, berorganisasi karena tugas dan tujuan yang sama, dan yang lebih besar membangun suatu negara yang dapat menjamin hidup mereka masing-masing

4. Manusia sebagai makhluk berbudaya
Manusia juga seing dikatakan sebagai makhluk yang berbudaya. Berbudaya mempunyai berbagai makna. Kita berada dan hidup dalam budaya tertentu. Namun, kita juga diharapkan ikut mengembangkan budaya tempat kita dilahirkan. Hal ini hanya mungkin bila kita sadar akan budaya asal kita dan kritis terhadap budaya tersebut sehingga dapat menilai mana yang kurang baik untuk dapat dirubah dan dikembangkan. Proses ini semua akan semakin menjadikan kita berbudaya tinggi, yaitu dengan meneruskan nilai budaya yang sudah baik dan mengubah nilai yang sudah tidak baik lagi karena perkembangan zaman ataupun situasi. Hal ini memungkinkan karena kita mempunyai akal budi, kesadaran, dan juga hati.
Berbeda dengan binatang, manusia itu mempunyai jiwa seni dapat menghargai seni tari, musik, sajak, dan dapat berbahasa. Itulah beberapa bentuk budaya yang dihidupi. Dan itu juga yang membedakan manusia dengan binatang. Manuia yang berbudaya dapat hidup dalam sopan santun dengan orang lain, tidak selalu harus melampiaskan nafsunya bahkan dalam melampiaskan nafsunya pun digunakan cara-cara yang berbudaya. Kita tahu bahwa setiap orang dilahirkan dalam budaya tertentu dan dapat berbeda dengan budaya orang lain yang dilahirkan ditempat lain. Maka dalam pergaulan dan komunikasi, sering dapat muncul persoalan dan bahkan konflik karena perbedaan budaya tersebut. Disini dibutuhkan keterbukaan dan juga kepekaan terhadap nilai budaya orang lain sehingga kita dapat saling menghargai budaya yang berbeda itu dan dapat saling memperkaya.


B. Tujuan Hidup Manusia
Manusia sebagai makhluk ciptaan tuhan bertujuan untuk mencapai tujuan baik secara duniawi dan surgawi kebahagian itu dicapai bila manusia semakin menyempurnakan dirinya. Maka manusia secara bebas mengembangkan dirinya untuk semakin menjadi sempurna dan semakin baik. Manusia mengembangkan segi hidupnya, segi rohani, jasmani, pribadi, sosial, budaya, akal budi, emosi, religiositasnya. Semua segi itu perlu dikembangkan secara seimbang.
Yang menarik kita simak adalah bahwa kesempurnaan manusia itu ternyata hanya dapat tercapai bila dalam proses penyempurnaan itu ia menyempurnakan sesamanya dan dunia tempat dia berada. Tanpa menyempurnakan mereka itu, manusia tidak dapat menjadi semakin sempurna (Driyarkara, 1969:60). Secara sederhana itu berarti bahwa manusia baru akan menjadi lebih baik, lebih berkembang, lebih mendekati Tuhan bila dalam hidup ini dia berdamai dengan sesama manusia, dengan dunia alam ini, dan tentu dengan Tuhan.
Manusia harus berdamai dan mengembangkan sesama manusia untuk mencapai kebahagiaan hidupnya itu berarti bahwa dalam hidup ini manusia harus mau hidup bersama orang lain, dan berdampingan dengan orang lain. Hal itu diwujudkan dengansaling membantu, saling bekomunikasi, saling bekerja sama, dan saling menjalin hubungan baik. Tanpa bersama orang lain, manusia tidak akan menjadi manusia, tetapi menjadi “sesuatu”. Secara filosofis, kebahagiaan kita sebagai manusia akan semakin penuh, bila semakin banyak orang bahagia dan kita andil didalam nya.
Manusia juga harus berdamai dengan alam dan mengembangkan alam agar menjadi tempat yang membantu perkembangan manusia. Secara moral itu berarti bahwa manusia harus mengolah dan memperlakukan alam semesta ini dengan baik sehingga dapat semakin digunakan oleh sebanyak mungkin oleh manusia lain. Tindakan merusak alam atau memboroskan penggunaan alam ini dianggap bertentangan dengan semangat berdamai dengan alam dan dianggap jahat. Alam ini diciptakan oleh Tuhan untuk digunakan bagi semua manusia agar mereka dapat mencapai kebahagiaannya.
Manusia juga harus berdamai dengan Tuhan sang pencipta. Secara sederhana perdamaian dengan Tuhan dapat diusahakan bila manusia mempunyai nhubungan dekat dengan Tuhan sendiri. Dengan relasi baik dengan sang pencipta, manusia diangkat dan disatukan dengan sang sumber kebahagian, yaitu Tuhan.

C. Pendidikan Manusia
Bila tujuan dari hidup manusia adalah untuk mencari kebahagian yang menyeluruh (dunia dan surgawi), pendidikan pun harus membantu seseorang untuk mencapai tujuan kehidupan itu, yaitu kebahagian. Dalam pengertian biasa, pendidikan manusia sering dikatakan untuk membantu anak didik agar berkembang menjadi manusia yang utuh, yang sempurna dan yang bahagia. Namun kita tahu bahwa kebahagiaan itu hanya mungkin tercapai bila manusia berelasi baik dengan sang pencipta, sesama, alam dan juga diri sendiri. Maka pendidikan manusia harus membantu anak didik untuk semakin berhubungan baik dengan sang pencipta, berdamai dengan orang lain, mengembangkan alam semesta agar menjadi lebih baik, dan mengembangkan pribadinya sendiri agar menjadi manusia yang bertanggung jawab.
Driyarkara (1980 : 127) mengungkapkan bahwa pendidikan itu bertujuan untuk memanusiakan manusia, atau membantu proses hominisasi dan humanisasi. Artinya membantu orang muda untuk semakin menjadi manusia yang berbudaya tinggi dan bernilai tinggi bukan hanya hidup sebagai manusia (makan-minum) yang bermoral, berwatak, bertanggung jawab, dan bersosialitas. Jadi pendidikan bertujuan membantu manusia muda menjadi manusia yang utuh.
Manusia utuh secara sederhhana dapat dilihat sebagai manusia yang dapat hidup selaras dengan dirinya dengan orang lain (sesama) dengan alamnya dan Tuhan Sang Pencipta. Kita sadar sebagai makhluk Tuhan kita tergantung kepada Tuhan. Ada kita karena Tuhan yang mengadakan dan seluruh hidup kita semua adalah pemberian Tuhan. Sebagai makhluk ciptaan Tuhan kita diharapkan menjalin relasi yang baik dengan Tuhan dan juga menghargai semua ciptaan Tuhan yang lain sama-sama diciptakan. Dalam pengertian ini pendidikan juga harus diarahkan untuk membantu anak menyadari hakikat dirinya sebagai ciptaan dan bersikap sebagai seorang ciptaan kepada sang pencipta.
Kita merupakan makhluk hidup di alam semesta, kita tidak hidup dalam angan-angan atau langit tetapi tinggal di alam nyata. Agar hidup kita terasa damai dan alam kita perlu menjaga keselarasan dengan alam semesta. Hal ini berarti kita perlu menjaga dan melestarikan alam agar dapat digunakan kehidupan semua. Pengrusakan hutan dan penghancuran alam akan berdampak negatif terhadap bagi hidup manusia sendiri.
Salah satu tugas pendidikan budi pekerti, membantu anak muda menyadari menurut kesadaran sebagai manusia yang lebih utuh. Tentunya budi pekerti bukan satu-satunya, tetapi sarana bantuan untuk lebih melengkapi pendidikan anak muda.

Suparno, Paul dkk.2002. Pendidikan Budi Pekerti Di Sekolah. Yogyakarta: Penerbit Kanisius(Anggota IKAPI)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar